Senin, 07 September 2009

Menemukan Ayat-ayat Allah


tulisan Kang Hasan [berbual.com] 4 September 2009,
di copy paste dengan seijin beliau...
------------

Seorang teman memajang foto-foto di Facebook. Ada foto aurora di kutub utara, awan entah di mana, sisik ikan di Afrika, dan banyak lagi. Semua foto itu bila dilihat dengan teliti, kata si pemajang, menampilkan nama Allah yang tertulis dalam huruf Arab. Itu semua, kata dia, adalah tanda-tanda kebesaran Allah.

Iseng, saya komentari begini: „People see what they want to see. Cuma lucu saja. Mungkin Allah lupa bahwa tidak semua hamba-Nya bisa membaca huruf Arab, sehingga di negara manapun dia menampilkan tanda kekuasaan-Nya dengan huruf Arab.“ Saya tentu tidak berniat melecehkan Tuhan dengan ungkapan itu. Itu adalah ekspresi kekecewaan saya pada cara teman saya tadi dalam melihat kebesaran Allah. Saya kecewa karena teman saya ini terpelajar, seharusnya dia bisa lebih dari itu.

Bagi saya, aurora, awan, atau apapun yang ada di sekitar kita adalah tanda-tanda kebesaran Allah. Tidak perlu menunggu sampai benda-benda itu menampilkan lafal nama Allah dalam huruf Arab. Benda dan fenomena alam, semua teratur dalam hukum-hukum yang mengagumkan. Hukum-hukum itulah tanda kebesaran Allah.

Begitulah yang saya pahami dari Quran. Karenanya banyak perintah Allah dalam Quran yang menyuruh kita untuk mengamati alam. Melihat bagaimana hujan diturunkan, bumi disuburkan, dan sebagainya. Agar kita memahami kebesarannya. Juga agar kita mengambil manfaat darinya.

Sesuatu berwujud tulisan berlafal nama Allah, atau sesuatu yang kita sangka begitu, boleh jadi akan membuat kita merasa lebih dekat pada Allah. Tapi hanya sampai di situ. Tak ada manfaat lebih jauh dari itu.

Marilah kita sadari bahwa benda-benda yang ada di sekitar kita sekarang ini adalah produk yang diperoleh dari pengamatan terhadap berbagai fenomena alam yang dilakukan selama ratusan tahun. Komputer yang saya pakai untuk menulis saat ini, AC yang mendinginkan ruangan, kendaraan yang saya naiki. Semua. Semua yang kita rasakan manfaatnya.

Saya kebetulan pernah menjadi peneliti tamu di beberapa universitas di Jepang. Sebelumnya saya kuliah di sana. Saya menjadi bagian dari usaha untuk membuka berbagai tabir misteri alam. Bagi saya pribadi, itu adalah kerja untuk menemukan ayat-ayat Allah. Bagi saya dan semua orang yang terlibat, itu adalah kerja untuk mencari manfaat dari berbagai fenomena alam.

Pengalaman saya menunjukkan bahwa mudah sekali rasanya untuk merasa tersentuh oleh kebesaran Allah. Untuk kagum pada ciptaanNya. Untuk itu kita cukup membaca temuan-temuan orang lain, lalu berteriak “Allahu akbar”. Yang sulit adalah menemukan sendiri. Dan yang paling sulit adalah menemukan ayat-ayat Allah yang kemudian temuan itu bisa dimanfaatkan bagi kepentingan umat manusia.

Saya ingat betul bagaimana saya bekerja sebagai seorang ilmuwan. Untuk mendapatkan data yang bisa dipakai untuk menguji hipotesa diperlukan eksperimen berbulan-bulan. Bahkan bisa bertahun-tahun. Barulah setelah itu kita merumuskan secuil ayat. Itupun tak menjamin bahwa yang kita temukan itu bisa bermanfaat. Banyak yang hanya menjadi sekumpulan informasi. Hanya sampai di situ.

Tapi setidaknya, menemukan sendiri ayat itu jauh lebih membahagiakan ketimbang hanya terkagum-kagum dengan ayat temuan orang lain. Dan tentu saja jauh lebih membahagiakan dibanding dengan menemukan tulisan nama Allah di sisik ikan.

Kita sudah sekian lama menjadi penganut Bucaillisme. Maurice Bucaille kita kenal sebagai penulis buku “Bibel, Quran, dan Sains modern”, yang menyimpulkan bahwa Quran cocok dengan temuan-temuan sains modern. Lalu setelah itu banyak orang yang mengikutinya. Yang mutakhir dari kelompok ini adalah Harun Yahya.

Bucaillisme tentu sedikit lebih baik dari kekaguman terhadap tulisan nama Allah yang muncul di sisik ikan. Tapi Bucaillisme tidak menghasilkan yang lebih dari sekedar decak kagum. Kita tidak menghasilkan sebuah produk riil dari decak kagum itu.

Lebih buruk dari itu, Bucaillisme sebenarnya penuh cacat. Banyak pengabaian serta inkonsistensi di situ. Pengabaian dan konsistensi itu dilakukan demi mencapai kesimpulan tadi; bahwa Quran cocok dengan sains modern.

Secara jujur saya, dengan segala keterbatasan saya, melihat banyak ayat tentang alam yang sebenarnya tidak cocok dengan sains modern. Misalnya tentang matahari yang berjalan dalam konteks kejadian siang dan malam. Karena kita tahu bahwa kejadian siang dan malam adalah akibat rotasi bumi, bukan karena matahari yang berjalan (beredar).

Tapi itu tak penting. Quran bukan buku sains. Ia tak harus memuat seluruh fakta-fakta sains, karena memang tak mungkin. Juga tak harus memuat semua informasi sains secara akurat.

Quran itu petunjuk. Atau bahkan bisa kita sebut penunjuk. Quran menyuruh kita mengamati alam, memberi sedikit bekal awal untuk memicu kita agar bergerak. Kalau bekal itu ternyata tak cocok benar di lapangan sana, tak masalah. Kita harus menemukannya sendiri. Penemuan itu bukan sekedar untuk kagum. Tapi, sekali lagi, untuk kita manfaatkan.

Itulah yang banyak kita lalaikan.

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar