Rabu, 18 Mei 2011

Tentang jidat Rumi

Malam ini karena si ibuk gak ada (sudah 2 hari on tour of duty) maka kami (aku, Rumi dan Risa) memutuskan untuk makan malam diluar. Setelah makan, mungkin karena gabungan antara kekenyangan, kecapekan dan kemaleman maka di perjalanan pulang, Rumi sudah tertidur dg sangat lelapnya.
Demikian lelapnya sampai sewaktu sudah sampai rumah dan berhasil memindahkannya ke kamar, aku gak tega utk menyuruhnya mengerjakan rutinitas sebelum tidur. Kubiarkan saja ia pergi tidur tanpa ganti baju, tanpa gosok gigi, tanpa sholat isya.

Tak lama kemudian, saat sdg berberes dan mengunci pintu2 dan jendela, tiba kudengar pintu kamar terbuka. Rumi keluar dengan terhuyung2 krn mengantuk dan dg mata masih setengah terpejam "Yah, aku belum Isya'... " katanya.
Lalu belum sempat aku jawab, entah krn sempoyongannya atau karena setengah meremnya, pas masuk kamar mandi Rumi kurang presisi. Kepalanya kejedot kusen pintu...!
Dan -bodohnya- karena melihat mulai dr keluar kamar, Rumi sdh sempoyongan dan akhirnya kejedot pintu pula, aku tertawa..... :(
Tidak terbahak, hanya tertawa pendek rasanya, tapi itu sudah cukup utk membuat Rumi marah. Mungkin gabungan atas ngantuk beratnya, kaget dan sakit kejedot pintu dan jengkel karena aku tertawa atas 'penderitaan'nya maka Rumi marah berat.
-Padahal satu hal yg selalu kuingatkan agar tdk pernah dilakukan Rumi adalah agar jangan pernah tertawa atas kesialan orang lain. Tapi aku melakukannya malam ini justru kepada Rumi. What a 'clever'...-

Lalu suasana pun memburuk. Rumi yg marah dan capek, aku yg menyesal tapi juga kaget atas reaksi dan kata2 Rumi saat marah, adalah gabungan dua hal yg cukup utk membuat suasana malam menjelang tidur menjadi sangat tidak baik.
Ah, sudahlah tak usah kuceritakan lebih detil bagaimana suasananya. Cukuplah dibayangkan bahwa adegan tadi akan membuat si Mischa itu jd kelihatan cemen akting marahnya.

Akhirnya aku turun ke bawah dan Rumi menyelesaikan Isya' nya masih dg marah2 dan beleleran air mata.

Saat ini wahai kawan, aku baru saja naik lagi ke kamar Rumi. Menyesal sekali tadi aku telah berbuat 'kebodohan' terhadap Rumi dan menyakiti hatinya dengan amat sangat. Memberinya contoh yg buruk. Menunjukkan betapa sebagai ayah, aku cuma bisa sok pinter tapi tak becus memberi tauladan.

Dan kau tahu apa yg membuatku saat ini beleleran jg spt mata Rumi waktu marah tadi ? Ternyata jidat Rumi benjol. Memar bengkak. Tidak parah memang dan aku yakin besok pagi akan segera hilang. Tapi bengkak memar jidat Rumi membuat perasaanku jadi teraduk-aduk.

Ya Allah, betapa banyak yg harus aku tiru dari anakku ini. Disaat sangat lelah penat, sempoyongan dan dg mata setengah terpejam, dia masih berusaha menguatkan niat dan berusaha keras menyeret badannya untuk bangun dan menjalankan kewajibannya dg segenap hati. Begitu penting bagi dia menunaikan kewajibannya thd Tuhannya.
Ini tamparan kedua untuk ku malam ini, betapa tak seteguh dan segenap hati aku, bahkan bila dibandingkan hanya dg Rumi, dalam menggenapi kewajibanku kepadaMu ya Allah.

Ayah yakin nak, kelak.. Kelak nanti... Disaat semua mulut terkunci tak lagi kuasa bicara. Maka jidatmu akan bersaksi, bahwa dia dulu pernah memar bengkak karena bersama hati dan tubuhmu berusaha menunaikan ketaatanmu pada Tuhanmu.

Terima kasih telah menjadi anak baik le...
Kamu hebat, paling tidak menurut ayah....

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar