Rabu, 18 Mei 2011

Berpanjang angan

Pagi ini 'in the peace of the morning' seorang rekan saya menyapa dengan komennya mengenai berpanjang angan.

Kebetulan dua hari ini saya memang sedang memikirkan tentang betapa tak terbatasnya angan dapat memanjang, lebar dan meluas.
Berita kematian Ratna Indraswari Ibrahim dua hari yang lalu membuat saya berpikir bahwa hanya kekuatan angan yang membuat beliau ditengah cacat fisik tubuh yang –dibanding dengan kondisi kebanyakan orang ‘normal’ lainnya- sedemikian parah, keterbatasan pandangan akibat glukoma dan begitu banyak handicap lainnya, dapat berkarya menghasilkan sekian ratus cerpen, novel dan juga menjadi fasilitator sekaligus aktivis bagi penyelamatan lingkungan dan budaya di kota Malang tempat tinggalnya.
Bagaimana mungkin seorang yang dilahirkan dalam keadaan cacat, tak pernah sekejap pun merasakan ‘nikmat hidup’ sebagai seorang normal, dapat menceritakan di cerpen2nya tentang betapa indahnya hidup, tentang bagaimana seharusnya orang berpikir dan bersikap baik terhadap hidupnya, tentang betapa indahnya hidup dan oleh karenanya selalu layak untuk dinikmati dengan berterima kasih terhadap kehidupan. Bercerita dengan lancar dan indah tentang elan kehidupan.
Satu hal yang saya ingat dari tulisannya adalah ‘orang yang tak berterima kasih terhadap sesama, terhadap alam, terhadap kehidupan, dia tidak berterima kasih terhadap Tuhan’

Berita kematian beliau ini, memanjangkan angan pikiran saya ke cerita novel ‘The Scarlet Letter’. Cerita novel tua ini (terbit pertama tahun 1800an) mengambil cerita masyarakat puritan di New England. Dimana sang tokoh utama Hester Prynne ditangkap dan dituduh sebagai pezina. Lalu dengan tetap merahasikan pasangannya, dia mengakui perbuatan yang dikutuk oleh masyarakat itu dan menerima hukuman pengucilan dari masyarakat. Sebagai bagian dari hukuman pengucilan tersebut adalah penistaan dengan mengenakan pakaian bersemat huruf “A” besar tersulam di dadanya. Agar semua tahu manusia macam apa mbak yu Hester itu, agar semua ingat tentang dosa apa yang telah dilakukannya.
Lalu kemudian –saya duga- apa yang dilakukannya adalah memanjangkan angan. Memandang bahwa ujung sejarah masih terbuka didepan. Dia membesarkan anaknya sebagai single parent, dan membuka pintu rumah dan pintu hatinya lebar2 bagi siapa saja yang membutuhkan. Posisi dia sebagai ‘pendosa’ rupanya mempermudah bagi orang-orang tersisih lainnya untuk datang sekedar untuk berbagi kesusahan. Banyak orang dengan masalah besar dan berat datang berkunjung ke mbak yu Hester untuk menimba kiat bagaimana tetap bertegak dan memanjang angan meluaskan cinta untuk melanjutkan kehidupan. Untuk bagaimana diam diam tenang menegakkan keberanian menghadapi hidup sebelum berteriak-teriak berani mati.
Dengan ‘kebaikan-kebaikan kecil’ yang dia sumbangkan ke masyarakat sekelilingnya, maka kelak anak2 yang makin tumbuh dewasa satu dua dasawarsa berikutnya kemudian bertanya kepada ibu mereka masing2 apakah huruf ‘A’ yang tersulam di bagian dada gaun Hester tersebut adalah berarti “Angel” sang malaikat. Orang lalu lupa, melupakan, merasa tak pantas untuk mengingat, untuk menganggap bahwa huruf “A” itu adalah cap bagi “Adulteress” si pezinah.

Ratna Indraswari Ibrahim dan Hester Prynne menceritakan mengenai nasib vs kemauan hati, memanjangkan angan, melakukan tindakan.
Mana yang lebih menentukan, kehendak Allah yang kadang terasa 'semena-mena' atau personal leadership ? Saya tidak tahu, tapi justru ketidaktahuan itu membuat saya berpikir untuk tidak serta merta menyerahkan segenap perkara kepadaNya dan sambil bercemas dan berkeluh-kesah, hanya diam menunggu Dia mendiktekan kehendakNya tanpa usaha keras dan memanjangkan angan secara maksimal dari diri kita. Biarlah Allah mengerjakan bagianNya, sambil kita memastikan bahwa kita telah melakukan bagian kita dengan sekeras mungkin.

Demikian angan saya yang berpanjang-panjang di pagi sepagi ini… have a blessed Tuesday everyone……

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar