Minggu, 08 Agustus 2010

nama saya Beni..


Perkenalkan nama saya Beni… Beni Sutrisno

Saya dilahirkan di Jember. Ditengah lingkungan NU yang sangat kental. Dulu ketika saya masih Sekolah Dasar, saya mengalami bagaimana KH. Sidiq -yang datang terlambat sewaktu sholat Jumat- menolak untuk dipersilahkan maju ke shaf depan, dan memilih ada di shaf belakang, pas di sebelah saya. Saya melihat bagaimana umat berebut menyalami gus Dur -sewaktu beliau datang berkunjung ke Jember- tanpa memperdulikan pentungan banser dan setelahnya memperebutkan sisa air minum di teko bekas gus Dur untuk mengharap berkah. Waktu itu saya pikir gus Dur lebih hebat dari penyanyi Hari Mukti yang minggu sebelumnya saya lihat manggung di Stadion Notohadinegoro Jember.

Disaat bersamaan, saya mengalami saat ketika Muhammadiyah dianggap sebagai ‘barang baru’ yang asing dan membahayakan dan dianggap hanya beda tipis dengan kafir. Ketika wejangan dari orang tua kepada anak gadisnya adalah “nduk… mencari suami yang paling utama adalah dilihat agamanya. Carilah yang seagama, agar dapat keberkahan dunia akhirat. Atau yaah.. minimal Muhammadiyah lah… se jelek-jeleknya. Jangan sampai yang berbeda agama”. Selanjutnya saya bergaul intens dengan kalangan Muhammadiyah. Saya mengikuti rangkaian pendidikan nya mulai dari Taruna Melati I, II, III sampai Darul Arqam dan pusat pengkaderan Muhammadiyah.
Saat itu tujuan hidup saya adalah menegakkan ajaran KH Ahmad Dahlan serta me Muhammadiyahkan orang lain. Sengaja saya akan berusaha sholat Jumat di masjid NU dan secara demonstratif akan tetap duduk ketika hampir semua orang melaksanakan shalat qabliyah Jumat. Setiap kali menulis surat kepada siapapun, maka tak lupa di penghujung surat akan saya tambahkan “nuun qalami wama yasthurun…. Demi pena dan apa yang dituliskannya” sebagai closing greeting favorit IPM (ikatan pelajar Muhammadiyah). Dan setelahnya saya merasa telah menjadi sangat Muhammadiyah sekali.



Melalui lompatan yang agak panjang, ditemani dengan segenap teman2 Muhammadiyah saya, lingkungan NU, teman2 katholik ordo Carmel, teman2 SMA dan kuliah. Juga bersama tulisan Hamka, Said Hawa, Hasan al-banna, Sayid Qutb, EMHA, Iqbal, Rumi, Al-afghani, Edward Said, kang Jalal, GM, PAT, Hoek Gie, Ahmad Wahib, Karen Amstrong, Farag Fouda, Coelho, Pamuk, Umberto Eco, Kuntowijoyo, Nurholis Madjid, Dawam Rahardjo, Pidi baiq, Umar kayam, Oemar Khayyam, gus Mus, gus Dur, Ahmad Tohari, JK Rowling, Stephani Meyer, Mohtar Lubis dan lain dan lain….
Saat ini saya menemukan bahwa fiqih adalah pendapat para ulama dengan merujuk pada sumber yang sama yaitu Al-quran dan sunah. Hanya saja, kemudian berkembang melebar, bercabang-cabang menjadi beberapa jalan. Saya menemukan bahwa fiqih itu tidak sama dengan alquran dan sunah. Orang yang menentang pendapat kita mengenai Alquran dan sunnah, tidak sama, tidak serta merta menjadi penentang Alquran dan sunnah. Sehingga tidak juga sama dan sertaq merta menjadi kafir, tetapi hanya sebatas berbeda tafsir…….Setelahnya saya lalu berkeyakinan bahwa akhlak lah yang dapat diandalkan, karena akan lebih diterima kebenarannya oleh siapapun dari mahzab apapun bahkan agama apapun.
Terdapat pandangan eksklusif beranggapan bahwa hanya pemeluk agama islam saja yang masuk surga, itupun tidak semua karena dari 73 golongan tetep akan masuk neraka kecuali golongan mursid X, guru Y dan imam Z. Merekalah penguasa kunci surga dan palang neraka. Rahmat Allah yang meliputi langit dan bumi, tiba2 terselip di ujung genggaman tangan mereka.
Sebaliknya pandangan pluralis berkeyakinan bahwa semua pemeluk agama mempunyai peluang yang sama untuk memperoleh keselamatan dan masuk surga. Semua agama benar berdasar criteria masing2. ‘Al-Khalqu ‘iyali’ Semua makhluk adalah keluarga besar Tuhan. Mereka tidak mengerti mengapa ada manusia yang berani membatai kasih sayang Tuhan. Mereka heran mengapa ada orang yang mengambil alih wewenang Tuhan.

Demikian.

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar