Selasa, 07 Juni 2011

Istriku sariawan

Istriku sariawan.

Entah kapan mulainya, tapi dua hari belakangan ini makin parah kondisinya. Tak henti2nya dia ngeses dan berdesis-desis. Kukira disamping siksaan perih dibibirnya, hal lain yang lebih menyiksa kukira adalah keterbatasannya untuk mengomelkan cintanya kepadaku dan Rumi dalam dua hari tersebut.

Jika untuk berbicara dan menelan ludah saja sakit, apatah lagi untuk mengunyah makanan. Apalagi makanan favoritnya yang panas dan pedas. Karena bagi istriku, makan itu adalah syariat sementara pedas itu adalah hakikat. Apa jadinya makan tanpa pedas dan panas ?
Jadi walaupun dia sedang menderita, tapi penderitaannya itu seolah coba dikurangi dengan kebahagiaan akan makanan pedas dan panas. Sebab jika tidak, akan makin beratlah deritanya.

Tapi pengertian syariat dan hakikat makanan panas pedas itu pasti membawa konsekwensi. Setiap suap makanan akan mengakibatkan matanya berair dan sesaat setelah setiap suapan, mulutnya akan tertahan sebentar dari mengunyah dan berteriak tertahan menyebut nama Tuhan... saking sakitnya.

Nama Tuhan itu diteriakkan saya kira bukanlah dengan tendensi spiritual orang saleh, melainkan reflek akan rasa sakit dan kesadaran betapa dalam kondisi seperti itu saya suaminya, Rumi anaknya dan semua tetangga secluster benar2 tidak berdaya untuk menolong. Sakit itu adalah sakit dia sendiri dan tak mungkin dibagikan kepada orang2 yang dicintainya.

Tapi jika Tuhan bisa didekati dengan cara seperti itu, apa salahnya menurut saya ? Ternyata lagi2 -seperti dalam banyak hal- dalam soal sariawan pun hanya Tuhan yang bisa jadi sandaran. Saya bersyukur istriku itu sariawan, karena dengan demikian makin sering dengan lantang dia menyebutkan nama Tuhan. Dan saya curiga keengganannya untuk diobati obat cina seperti saranku adalah tarikat yang dia pilih untuk makin dekat dengan Tuhannya.

Tarikat baru yg menarik kukira.. ;)

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar