Jumat, 12 Maret 2010

Fundamentalisme Mata Kaki


copy paste dari tulisan kang hasan di [berbual.com]

Namanya Khaleed, orang Pakistan. Perawakannya kurus tinggi. Wajahnya dihiasi hidung mancung, khas orang Asia Selatan. Pipi dan dagunya dihiasi janggut tebal dan panjang. Khaleed adalah teman saya. Kami sama-sama kuliah di program doktor di sebuah universitas di Jepang. Kelak ketika sama-sama sudah lulus, dia dan saya sama-sama menjadi peneliti tamu di universitas tersebut.
Ada ciri yang cukup menonjol dalam cara Khaleed berpakaian. Meski berada di Jepang, Khaleed sering tampil dengan baju tradisional Pakistan. Baju yang mirip dengan baju koko kita, tapi lebih panjang. Yang lebih khas, ujung celana Khaleed menggantung agak tinggi, di atas mata kaki. Belakangan aku paham bahwa soal ujung celana ini adalah persoalan penting bagi dia.
Suatu hari saya mendapat giliran khutbah Jumat di Islamic Center. Dia memuji khutbah saya. “It was a very nice khutba, brother.” katanya. Ia lalu mengundang saya untuk bersilaturahmi ke rumahnya. Saya menyetujui undangan itu.
Pada hari yang kami tentukan, Khaleed dating ke apartemen saya untuk menjemput. Saya waktu itu tidak punya mobil, dan rumah Khaleed agak jauh di pinggir kota, tidak terjangkau oleh angkutan umum. Bersama istri saya, kami menuju rumah Khaleed.
Di rumah itu saya dan Khaleed berbicang, sedang istri saya bersama istri Khaleed di ruangan lain. Ini adalah suasana yang berbeda bagi saya. Kalau dengan sesama orang Indonesia kami tidak seperti. Kami selalu berkumpul di ruangan yang sama.
Setelah berbincang ringan, Khaleed menghidangkan masakan khas Pakistan, roti nan bersama kari ayam. Semuanya lezat. Setelah makan kami berbincang lebih serius.
Khaleed menyalakan komputer, menunjukkan pada saya CD-ROM yang berisi hadist-hadist. Seingat saya itu adalah kitab hadist sahih Bukhari-Muslim yang didigitalkan, ditambah dengan terjemahan bahasa Inggris. Khaleed menawari saya satu kopi CD tersebut.
Tak lama setelah itu saya paham, bahwa ada tujuan tertentu di balik semua ini. Khaleed kemudian membawa saya kepada sebuah hadist, yang erat kaitannya dengan ujung celana dia tadi. Dia menunjukkan sebuah hadist yang menceritakan bahwa Nabi pernah menegur orang yang bajunya panjang melebihi mata kaki. Ujung baju itu, kata Nabi, adalah umpan bagi api neraka.
Saya tahu soal hadist ini, jauh sebelum saya berkenalan dengan Khaleed. Dalam sebuah pengajian di kampus waktu saya masih kuliah di Indonesia kami pernah membahas hadist ini. Waktu itu ustaz menjelaskan bahwa alasan pelarangan itu adalah bahwa pada jaman itu berbaju panjang adalah cara berpakaian yang berlebihan, dan dianggap sebagai kesombongan. Salah seorang sahabat (kalau tak salah Abu Bakar) “mengeluh” bahwa ia kesulitan menjalankan larangan Nabi itu, dan oleh Nabi dikatakan bahwa ia bukan orang yang sombong. Ini dijadikan dasar bagi ustaz kami untuk menjelaskan situasi di seputar turunnya larangan itu.
Tapi bagi Khaleed soalnya lain lagi. Abu Bakar adalah satu-satunya orang yang dikecualikan dari larang itu, katanya. Itu yang dia pahami dari hadist tersebut.
Bagi Khaleed semua omongan Nabi itu fundamental. Tidak boleh ada satupun omongan Nabi yang boleh dianggap enteng atau diabaikan. Saya sepakat dengan dia soal itu. Tapi bagi saya, Nabi atau siapapun, berbicara pasti dalam suatu konteks. Konteks itu harus disertakan dalam memahami pesan.
Begitulah, saya dan Khaleed berbeda. Saat itu saya tidak mendebat Khaleed secara keras. Kami hanya berbincang biasa. Khaleed sendiri sepertinya sejak awal sudah memahami posisi yang saya ambil. Dia nampaknya hanya punya target bahwa dia harus menyampaikan hal itu kepada saya. Sesudah itu, bagi dia tugasnya sudah selesai.
Dalam berbagai kesempatan, dalam khutbah maupun obrolan biasa, Khaleed selalu mengulang-ulang pesan soal tidak menutupi mata kaki ini. Umumnya orang tidak setuju dengan dia. Tapi Khaleed tidak peduli. Ia berprinsip, apa yang harus dia sampaikan, dia sampaikan.
Bagi saya Khaleed adalah seorang fundamentalis. Dia menganggap semua teks-teks suci, Quran dan hadist, harus dimaknai secara apa adanya, sebagaimana tertulis di situ. Ia tidak menafsir bagaimana konteksnya. Ia tidak banyak-banyak menggunakan nalar untuk menduga makna yang tertulis dari sebuah kalimat suci. “Apa yang sudah ditetapkan Allah dan Rasulnya, sudah sangat jelas. Kita harus melaksanakannya.” begitu kata Khaleed selalu.
Tapi Khaleed adalah pribadi yang santun. Saat saya menyatakan ketidaksetujuan saya pada pandangan dia dengan senyum, dia juga membalas dengan senyum. Dia tegas pada prinsip, tapi tidak kasar dalam berkata. Dia tidak mudah menunding orang lain kafir, meski saya tahu dia sangat tidak sepakat dengan orang itu dalam hal yang sangat fundamental.
Di suatu Idul Fitri, usai shalat mengikuti kebiasaan orang-orang Arab, kami saling berangkulan dan mengucap “Ied Mubarak.” Saat merangkul Khaleed, dia berbisik, “This is bid’ah brother.” Saya menjawabnya dengan senyum, dan Khaleed juga tersenyum. Ciri khas Khaleed. Dia tidak setuju dengan apa yang dilakukan oleh banyak orang. Diam-diam dia mencoba mengoreksinya, dengan sebanyak mungkin menghindari konflik.
Khaleed mengajarkan pada saya bahwa fundamentalisme tidak selalu identik dengan permusuhan.

http://berbual.com

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar