Rabu, 08 Juli 2009

29 Juli 2009


Hari ini tanggal 29 Juni, genap 8 tahun kami menikah.

Sebuah angka yang belum apa-apa dibandingkan dengan usia perkawinan orang tua kami.... dibandingkan dengan banyak pasangan luar biasa lainnya. Mereka bisa merayakan 'kawin perak 25 tahun', 'kawin emas' 50 tahun, atau bahkan lebih. Buat mereka, pencapaian pernikahan 8 tahun tentu Cuma pencapaian para pemula.

Namun bagi saya dan istri, (baru) 8 tahun pernikahan adalah karunia besar.
Karena saat ini, tak banyak yang mampu melewati waktu sependek itu secara mulus. Sejumlah orang, baik yang saya kenal cuma dari televisi dan koran maupun yang saya kenal baik secara pribadi, gagal melanjutkan pernikahannya. Alasannya beragam. Padahal, banyak di antara mereka yang berpendidikan tinggi. Kadang pengetahuan agamanya juga tak diragukan...

Kenapa begitu..?

Sesekali saya dan istri mendiskusikannya.

Kami sepakat: Penyebab tersering perceraian adalah selingkuh. Ketika salah satu pihak mulai mencederai komitmen awalnya dan berselingkuh, goyahlah sendi-sendi keluarga. Terutama bila selingkuh itu telah diwarnai hubungan seksual. Lewat pernikahan diam-diam, apalagi zina.

Tidak sedikit orang berselingkuh dan tidak merasa berdosa karena tidak berzina. "Kan cuma 'curhat', atau makan bareng," kilahnya. Tapi, sulit bagi penyelingkuh buat menyangkal bahwa curhat itu adalah kerikil yang ia tabur sendiri ke tengah jalan perkawinannya.

Kadang penyebab kandas perkawinan lebih sepele: "Sudah /nggak/ cocok lagi!" Begitu ringan kalimat itu diucapkannya. Padahal memang perkawinan dimulai dengan pertemuan dua perbedaan yang sangat besar antara satu dengan yang lainnya.

Tapi, tak semua pasangan '/nggak/ cocok' memilih berpisah. Banyak pula yang memilih mempertahankan pernikahannya. "/Awet rajet/," begitu kata orang Sunda. Bertengkar melulu tapi terus bertahan. Alasannya beragam.Misalnya, demi anak.

Dalam model keluarga begini, mereka akan sibuk mendaftar kesalahan pasangan sendiri. Mereka cenderung menuding satu sama lainnya tak bertanggung jawab pada anak.Sangka mereka, mereka lebih bertanggung jawab dan lebih baik pada keluarga.

Kita lupa bahwa pasangan hidup, sedikit banyak, adalah cermin diri sendiri. Jika nilai rapornya menurut kita merah, hampir pasti merah pula nilai rapor kita. Kita tak lebih baik dari pasangan kita. Mengapa kita tak memperbaiki diri sendiri saja? dan biarkan ia memperbaiki dirinya sendiri pula.
Mengapa kita terus menjadikan anak sebagai 'senjata' buat menghadapi pasangan sendiri?
Kalau saya menduga mungkin juga mereka hanya menjadikan alasan anak sebagai alasan perantara untuk alasan2 lain seperti status dan kestabilan kondisi finansial.


Ada pula model berkeluarga yang sekarang sedang menjadi 'tren'.Biasanya, posisi suami di keluarga sangat dominan. Ketika ekonomi keluarga kian mapan, dan ikatan suami-istri tak lagi terbungai perasaan berdebar-debar, suami pun membidikkan mata dan hati pada perempuan lain.

Berzina jelas haram. Solusinya adalah pernikahan. Istri dengan istri dipersandingkan. Tak penting bagaimana perasaan istri yang dulu seperti dijanjikan menjadi ratu keluarga sepanjang usia. Tak penting pula bagaimana perasan anak-anak, meskipun mereka merasa malu atas langkah ayahnya.

Laki-laki demikian umumnya punya kemampuan untuk membuat istri dan anak-anaknya terdiam.

Apalagi bila menggunakan alasan syariah. Sebuah format syariah yang berbeda dengan yang ditunjukkan pasangan Muhammad SAW-Khadijah: Mereka hidup bersama tanpa poligami hingga maut memisahkannya.

Perjalanan 8 tahun pernikahan saya tidak semeriah kawan-kawan itu.

Pesta pernikahan saya dulu tidak sangat amat megah. Syukurlah karena saya merasa tidak sepantasnya bila awal perjalanan dipestakan megah. Saya dan istri lalu mengisi pernikahan dengan langkah-langkah sederhana.

Misalnya, untuk sama sekali tidak pernah meninggikan suara karena hanya akan saling melukai. Atau bila terlanjur melakukannya, kami akan berusaha sesegera mungkin untuk saling meminta maaf.

Juga untuk tidak pernah mengatakan "saya kan sudah berkurban ..." karena pernyataan itu sebenarnya lebih merupakan ekspresi menuntut dibanding sungguh-sungguh berkurban.

Kami saling mendoakan, juga berusaha mendoakan secara spesifik setiap anggota keluarga kami dengan
menyebut nama satu persatu, setiap habis shalat. Juga menciptakan suasana agar setiap anggota melangkah hanya yang dapat membuat semua anggota keluarga lain dapat berjalan 'tegak'.

Itu langkah kami. Kini saat yang paling indah adalah saat terbangun sebelum fajar, menikmati kesenyapan dengan tangan saling genggam, menunggu Subuh diazankan. Sungguh itu merupakan karunia luar biasa. Sebuah kenyamanan yang mencetuskan tanya istri saya: "Mengapa pada banyak orang begini saja tidak bisa? Apa sulitnya?"

Saya tak tahu jawabnya. Saya hanya bisa berkata "Terima kasih ndRa..."

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar