Jumat, 24 Juni 2011

Nabi berkata 'kiri bang...'

Kalau saja dulu kanjeng Nabi pernah naik angkot di Jakarta, lalu beliau berujar "kiri bang..." itu berarti beliau ingin berhenti ditempat tersebut.
Jadi untuk memahaminya mustilah dipahami bahwa Nabi sedang naik angkot, dipahami bahwa ada tujuan tertentu beliau untuk berhenti ditempat itu, dan dipahami bahwa kiri itu artinya berhenti.

Bukannya ingin jalan dikiri.
Bukanlah lalu disunahkan agar tiap sopir mengambil jalur kiri,
bukanlah diartikan kiri lebih baik dari kanan, apalagi dipahami bahwa supir yang mengambil jalur kanan adalah supir yang sesat.

Terlalu ceroboh dan dangkal pasti contoh diatas, tapi disaat 10 menit tersisa sebelum masuk meeting pagi ini, contoh ekstrim tsb diatas mungkin dapat menggambarkan dengan singkat dan cepat, tentang hubungan antara segala kondisi, budaya dan perilaku serta tujuan Nabi saat itu dengan sunah (perkataan, tindakan, pilihan dan bahkan diam serta pembiaran) Nabi.

Sehingga jarak dan perkembangan sekian abad dari jaman beliau sampai saat ini, dengan segala perkembangan dan perubahannya, menurut saya mustilah disikapi dengan menyediakan ruang pemikiran, aktualisasi dan penyesuaian bagi setiap sunah nabi yang -bersama-sama- ingin kita hidup-hidupkan dan lestarikan tersebut.
Tujuannya tentu saja agar sunah tersebut aplikatif, dapat diterima dan berguna. Sunah tersebut up to date. Sunah tersebut cool. Mengambil inti hakikatnya, dan menyesuaikan cara dan kaidahnya.

Tidak mudah, riskan dan perlu keberanian, kebijakan, telaah dan ilmu pengetahuan memang.
Perlu telaah dan pengetahuan bukan hanya tentang masa Nabi saja tapi juga pengetahuan masa kini dan hal-hal kekinian.
Tak segampang telak2 misalnya memendekkan ujung celana, memanjangkan jenggot dan bersiwak setiap sebelum sholat -dan berbonus poligamii maksimal 4 sebagai sunah fave- .

Bagi saya usaha simplifikasi sunah -hanya dengan hal2 kecil kasat mata- dan telak2 mengambil setiap tindakan nabi tanpa mengaitkan dengan konteks kondisi dan tujuannya tersebut lebih bersumber pada kemalasan berpikir, keengganan mengambil resiko, kebutaan tentang masa kini dan sikap takluk dan apatis -semacam dendam samar2 tentang "Biar dunia bukan milik kita, tapi lihatlah kelak siapa yang berjaya di akhirat"- daripada ketaatan dan keinginan kuat untuk menegakkan sunah dan menjadikannya trend yg dapat mudah dan keren untuk diterapkan di jaman ini.

Itu kalo menurut saya.......
lanjut...

Selasa, 07 Juni 2011

Istriku sariawan

Istriku sariawan.

Entah kapan mulainya, tapi dua hari belakangan ini makin parah kondisinya. Tak henti2nya dia ngeses dan berdesis-desis. Kukira disamping siksaan perih dibibirnya, hal lain yang lebih menyiksa kukira adalah keterbatasannya untuk mengomelkan cintanya kepadaku dan Rumi dalam dua hari tersebut.

Jika untuk berbicara dan menelan ludah saja sakit, apatah lagi untuk mengunyah makanan. Apalagi makanan favoritnya yang panas dan pedas. Karena bagi istriku, makan itu adalah syariat sementara pedas itu adalah hakikat. Apa jadinya makan tanpa pedas dan panas ?
Jadi walaupun dia sedang menderita, tapi penderitaannya itu seolah coba dikurangi dengan kebahagiaan akan makanan pedas dan panas. Sebab jika tidak, akan makin beratlah deritanya.

Tapi pengertian syariat dan hakikat makanan panas pedas itu pasti membawa konsekwensi. Setiap suap makanan akan mengakibatkan matanya berair dan sesaat setelah setiap suapan, mulutnya akan tertahan sebentar dari mengunyah dan berteriak tertahan menyebut nama Tuhan... saking sakitnya.

Nama Tuhan itu diteriakkan saya kira bukanlah dengan tendensi spiritual orang saleh, melainkan reflek akan rasa sakit dan kesadaran betapa dalam kondisi seperti itu saya suaminya, Rumi anaknya dan semua tetangga secluster benar2 tidak berdaya untuk menolong. Sakit itu adalah sakit dia sendiri dan tak mungkin dibagikan kepada orang2 yang dicintainya.

Tapi jika Tuhan bisa didekati dengan cara seperti itu, apa salahnya menurut saya ? Ternyata lagi2 -seperti dalam banyak hal- dalam soal sariawan pun hanya Tuhan yang bisa jadi sandaran. Saya bersyukur istriku itu sariawan, karena dengan demikian makin sering dengan lantang dia menyebutkan nama Tuhan. Dan saya curiga keengganannya untuk diobati obat cina seperti saranku adalah tarikat yang dia pilih untuk makin dekat dengan Tuhannya.

Tarikat baru yg menarik kukira.. ;)

Rabu, 18 Mei 2011

Pak Madura itu

suatu sore, seorang country manager terheran melihat seorang penjual kopi keliling yang sedari dia masuk masjid untuk sembahyang Ashar sampai dia selesai, masih saja santai sambil setengah rebahan dan bercanda dg anak kucing kecil serta menghisap gudang garam merah di pelataran masjid.

" Santai pak..?"

" iya dek...."

" itu di depan parkiran banyak taksi mangkal pak.. kenapa nggak ke sana pak ? laris lho..."

" beh, ada appa...? sudah cokop saya jualan hari ini "

" cukup gimana pak... jual lagi... masih sore ini.. itu banyak supir mangkal, kurir ngaso, angkot ngetem, banyak itu yang perlu kopi dan mau beli rokok ketengan dari sampean... jual banyak-banyak pak.... dapat hasil banyak...."

" buat appa saya jual nyak-banyak... hasil nyak-banyak...."

" biar maju pak eeee.... biar sepedah ontelnya ini nanti bisa ganti motor, biar jualnya bisa modal sendiri gak utang ke juragan sampean, biar termos air ini nanti bisa ganti pake dispenser...... Siapa tau nanti tambah gede tambah gede....bisa ganti pake mobil pikep jualannya sampean.... ada makanan kecilnya juga...... sampean harus mengumpulkan aset... eh aset itu harta, modal, biar modal sampean tambah banyak.... omzet eh, dapetnya sehari tambah banyak... Jadi kan otomatis untungnya juga jadi tambah banyak....... terus maju dan maju.... sampean nanti punya mobil pikep yang kedua, ketiga dan berikutnya... punya anak buah...Sampean harus kerja keras pak... sambil berhemat... "

" Lha terus, kalok sudah begitu mau appa saya ? "

" Aaaarrrggghhhh......!!! Ya lalu sampean jadi financial freedom... ah, pokoknya sampean jadi kecukupan lah.... Gak kekurangan lagi.....Bisa bebas dari utang, punya uang cukup, berkecukupan...... Nah.. Terus disaat itu, sampean baru bisa benar-benar menikmati hidup...."

" Jadi agar saya bisa menikmati hidup nanti ya dek ? "

" iya pak... menikmati hidup dengan tenang....."

" lha sampian peker saya sedang ngapain ini.... ? dari tadi ini ? sampek tadi tiba2 sampian lalu nyuruh-nyuruh saya tadi...saya sedang nikmatin hidup inni..... nikmati hidup dengan tenang....... sekarang ini... gak usah nunggu2 dan panjang2 seperti ikut omongannya sampian tadi.... mak neser sampian mau nikmatin hidup saja nyuruh saya cek panjangnya jalannya dik... "
" eh, saya tanyak ini ya, sampian milih manna sampian sebenernya ? harta banyak appa kepinteran menikmati hidup..? "

Si country hanya ndlongop dan tiba2 merasa bodoooooo mbanget.


9 Mei 2011 bakda Ashar.
Masjid Hidayatullah, Sudirman Jakarta.

PS. Ternyata nabi Khidir itu bisa juga nyamar jadi orang Madura takiyeh.....

*seperti yang di tausiahkan oleh Ustadz de Mello*

Tentang jidat Rumi

Malam ini karena si ibuk gak ada (sudah 2 hari on tour of duty) maka kami (aku, Rumi dan Risa) memutuskan untuk makan malam diluar. Setelah makan, mungkin karena gabungan antara kekenyangan, kecapekan dan kemaleman maka di perjalanan pulang, Rumi sudah tertidur dg sangat lelapnya.
Demikian lelapnya sampai sewaktu sudah sampai rumah dan berhasil memindahkannya ke kamar, aku gak tega utk menyuruhnya mengerjakan rutinitas sebelum tidur. Kubiarkan saja ia pergi tidur tanpa ganti baju, tanpa gosok gigi, tanpa sholat isya.

Tak lama kemudian, saat sdg berberes dan mengunci pintu2 dan jendela, tiba kudengar pintu kamar terbuka. Rumi keluar dengan terhuyung2 krn mengantuk dan dg mata masih setengah terpejam "Yah, aku belum Isya'... " katanya.
Lalu belum sempat aku jawab, entah krn sempoyongannya atau karena setengah meremnya, pas masuk kamar mandi Rumi kurang presisi. Kepalanya kejedot kusen pintu...!
Dan -bodohnya- karena melihat mulai dr keluar kamar, Rumi sdh sempoyongan dan akhirnya kejedot pintu pula, aku tertawa..... :(
Tidak terbahak, hanya tertawa pendek rasanya, tapi itu sudah cukup utk membuat Rumi marah. Mungkin gabungan atas ngantuk beratnya, kaget dan sakit kejedot pintu dan jengkel karena aku tertawa atas 'penderitaan'nya maka Rumi marah berat.
-Padahal satu hal yg selalu kuingatkan agar tdk pernah dilakukan Rumi adalah agar jangan pernah tertawa atas kesialan orang lain. Tapi aku melakukannya malam ini justru kepada Rumi. What a 'clever'...-

Lalu suasana pun memburuk. Rumi yg marah dan capek, aku yg menyesal tapi juga kaget atas reaksi dan kata2 Rumi saat marah, adalah gabungan dua hal yg cukup utk membuat suasana malam menjelang tidur menjadi sangat tidak baik.
Ah, sudahlah tak usah kuceritakan lebih detil bagaimana suasananya. Cukuplah dibayangkan bahwa adegan tadi akan membuat si Mischa itu jd kelihatan cemen akting marahnya.

Akhirnya aku turun ke bawah dan Rumi menyelesaikan Isya' nya masih dg marah2 dan beleleran air mata.

Saat ini wahai kawan, aku baru saja naik lagi ke kamar Rumi. Menyesal sekali tadi aku telah berbuat 'kebodohan' terhadap Rumi dan menyakiti hatinya dengan amat sangat. Memberinya contoh yg buruk. Menunjukkan betapa sebagai ayah, aku cuma bisa sok pinter tapi tak becus memberi tauladan.

Dan kau tahu apa yg membuatku saat ini beleleran jg spt mata Rumi waktu marah tadi ? Ternyata jidat Rumi benjol. Memar bengkak. Tidak parah memang dan aku yakin besok pagi akan segera hilang. Tapi bengkak memar jidat Rumi membuat perasaanku jadi teraduk-aduk.

Ya Allah, betapa banyak yg harus aku tiru dari anakku ini. Disaat sangat lelah penat, sempoyongan dan dg mata setengah terpejam, dia masih berusaha menguatkan niat dan berusaha keras menyeret badannya untuk bangun dan menjalankan kewajibannya dg segenap hati. Begitu penting bagi dia menunaikan kewajibannya thd Tuhannya.
Ini tamparan kedua untuk ku malam ini, betapa tak seteguh dan segenap hati aku, bahkan bila dibandingkan hanya dg Rumi, dalam menggenapi kewajibanku kepadaMu ya Allah.

Ayah yakin nak, kelak.. Kelak nanti... Disaat semua mulut terkunci tak lagi kuasa bicara. Maka jidatmu akan bersaksi, bahwa dia dulu pernah memar bengkak karena bersama hati dan tubuhmu berusaha menunaikan ketaatanmu pada Tuhanmu.

Terima kasih telah menjadi anak baik le...
Kamu hebat, paling tidak menurut ayah....

Berpanjang angan

Pagi ini 'in the peace of the morning' seorang rekan saya menyapa dengan komennya mengenai berpanjang angan.

Kebetulan dua hari ini saya memang sedang memikirkan tentang betapa tak terbatasnya angan dapat memanjang, lebar dan meluas.
Berita kematian Ratna Indraswari Ibrahim dua hari yang lalu membuat saya berpikir bahwa hanya kekuatan angan yang membuat beliau ditengah cacat fisik tubuh yang –dibanding dengan kondisi kebanyakan orang ‘normal’ lainnya- sedemikian parah, keterbatasan pandangan akibat glukoma dan begitu banyak handicap lainnya, dapat berkarya menghasilkan sekian ratus cerpen, novel dan juga menjadi fasilitator sekaligus aktivis bagi penyelamatan lingkungan dan budaya di kota Malang tempat tinggalnya.
Bagaimana mungkin seorang yang dilahirkan dalam keadaan cacat, tak pernah sekejap pun merasakan ‘nikmat hidup’ sebagai seorang normal, dapat menceritakan di cerpen2nya tentang betapa indahnya hidup, tentang bagaimana seharusnya orang berpikir dan bersikap baik terhadap hidupnya, tentang betapa indahnya hidup dan oleh karenanya selalu layak untuk dinikmati dengan berterima kasih terhadap kehidupan. Bercerita dengan lancar dan indah tentang elan kehidupan.
Satu hal yang saya ingat dari tulisannya adalah ‘orang yang tak berterima kasih terhadap sesama, terhadap alam, terhadap kehidupan, dia tidak berterima kasih terhadap Tuhan’

Kamis, 24 Maret 2011

Bila

Berjuta orang gegap gempita men selamat i pagi. Dan pagi tetap tergesa sibuk bergegas pergi.
Setiap hari kita memakan siang. Dan siang bergeming, memastikan diri tak habis terbagi untuk semua.
Semua bergilir bersama men tidur i malam dengan mesra tanpa khawatir. Karena malam selalu di datang i bulan.

lalu coba kau katakan padaku, apa yang tersisa untuk bercemas ?

| dari lini masa, seperti yang diceritakan istriku semalam sebelum tidur

Tuhan, jangan Kau Firaun kan aku

Aku tahu bahwa dari paras saja dan dibagian mana baju ini terkoyak, tentu aku bukanlah Yusuf. Sangatlah jauh dari Yusuf.
Tapi sungguh aku juga merasa sangatlah berbakat untuk menjadi Firaun. Bertukar tempat dengan Firaun.

Jadi mohonku, jagalah aku dijalanku ini ya Rabbana..
Jalan yang memang kerap tak mampu mencontoh dari kebaikan Yusuf.
Tapi juga jalan usaha keras tak kenal lelah untuk belajar banyak dengan tidak mengikuti keburukan Firaun.

Rabbana amin

Mobil dengan stiker "Follow Jesus"

Tulisan di milis PATIGAT, menanggapi kabar kisruh saling tuding di internal PKS.

------

Dengan analogi yang tidak terlalu tepat, mungkin adalah seperti Mobil dengan stiker "Follow Jesus" yang saya sua pagi ini.

Bagi saya, semestinya mobil adalah mobil, dengan segala mesin, body, ban dan segala asesorisnya, serta di kendalikan oleh supir untuk tujuan si supir.
Menjadi bias bila kemudian mobil itu ditempeli "Follow Jesus" dan kemudian masuk jalur bus way di depan Twin Plasa Slipi.
Pasti pelanggaran tersebut adalah karena kesalahan supir dan tidak ada hubungan sama sekali dengan Jesus dan segala ajarannya.
Saya sebagai mobil yang dibelakangnya dan setiap orang lain yang juga membaca stiker tersebut dan tahu kelakuan mobil tersebut seharusnya paham bahwa "Follow Jesus" dan kelakuan supir adalah dua hal yang jauh berbeda.

Mobil tersebut adalah mobil. Just mobil. Dan tidak akan merubah maknanya dengan atau tanpa stiker tersebut. Kalaupun di salib pun pasti adalah hanya karena lambat dan bukan karena alasan lain yang lebih mulia, penebusan dosa misalnya.
Anggapan yang sama juga semestinya berlaku untuk mobil lain dengan stiker sejenis. Stiker hijau tulisan arab putih "Ishadu bi anna mulimun" misalnya.

Dengan menarik ibroh yang terkandung dalam kejadian diatas maka (menurut saya) ;

Stay hungry, stay foolish

...CEO paling berpengaruh didunia pun 'pedoman'nya mengingat kematian...

*Pidato Steve Jobs di Acara Wisuda Stanford University*
____________________________________________________

Saya merasa bangga di tengah-tengah Anda sekarang, yang akan segera lulus
dari salah satu universitas terbaik di dunia. Saya tidak pernah selesai
kuliah. Sejujurnya, baru saat inilah saya merasakan suasana wisuda. Hari ini
saya akan menyampaikan tiga cerita pengalaman hidup saya. Ya, tidak perlu
banyak. Cukup tiga.

*Cerita Pertama: Menghubungkan Titik-Titik*
Saya drop out (DO) dari Reed College setelah semester pertama, namun saya
tetap berkutat di situ sampai 18 bulan kemudian, sebelum betul-betul putus
kuliah. Mengapa saya DO? Kisahnya dimulai sebelum saya lahir. Ibu kandung
saya adalah mahasiswi belia yang hamil karena “kecelakaan” dan memberikan
saya kepada seseorang untuk diadopsi.

Dia bertekad bahwa saya harus diadopsi oleh keluarga sarjana, maka saya pun
diperjanjikan untuk dipungut anak semenjak lahir oleh seorang pengacara dan
istrinya. Sialnya, begitu saya lahir, tiba-tiba mereka berubah pikiran bayi
perempuan karena ingin. Maka orang tua saya sekarang, yang ada di daftar
urut berikutnya, mendapatkan telepon larut malam dari seseorang: “kami punya
bayi laki-laki yang batal dipungut; apakah Anda berminat? Mereka
menjawab:“Tentu saja.” Ibu kandung saya lalu mengetahui bahwa ibu angkat
saya tidak pernah lulus kuliah dan ayah angkat saya bahkan tidak tamat SMA.
Dia menolak menandatangani perjanjian adopsi. Sikapnya baru melunak beberapa
bulan kemudian, setelah orang tua saya berjanji akan menyekolahkan saya
sampai perguruan tinggi.

Dan, 17 tahun kemudian saya betul-betul kuliah. Namun, dengan naifnya saya
memilih universitas yang hampir sama mahalnya dengan Stanford, sehingga
seluruh tabungan orang tua saya- yang hanya pegawai rendahan-habis untuk
biaya kuliah. Setelah enam bulan, saya *tidak melihat manfaatnya*. Saya
tidak tahu apa yang harus saya lakukan dalam hidup saya dan bagaimana kuliah
akan membantu saya menemukannya. Saya sudah menghabiskan seluruh tabungan
yang dikumpulkan orang tua saya seumur hidup mereka. Maka, saya pun *memutuskan
berhenti kuliah*, yakin bahwa itu yang terbaik. Saat itu rasanya menakutkan,
namun sekarang saya menganggapnya sebagai keputusan terbaik yang pernah saya
ambil.

Senin, 14 Maret 2011

Doa sampai ke Tuhan

Bagi saya, semua doa bagaimanapun caranya, oleh siapapun, pasti sampai ke Tuhan, buktinya semuanya dikabulkan |

ada kan yang tidak dikabulkan? |

belum itu atau dikabulkan dalam bentuk lain |

Iya, kalau bagi yang beriman bila belum dikabulkan adalah perintah untuk bersabar, sedang bagi yang dikabulkan adalah karena rahman-rahim Tuhan.

Sedang bagi yang tidak beriman, justru semakin dikabulkan, diberi, adalah dibiarkan bersenang-senang dan terlena oleh Tuhan, dan mereka sungguh akan menyesal di akhirat |

Entah kalo situ sohibnya Tuhan, jadi tau banget sampe detil maksud Tuhan, tapi bagi saya, saya tidak percaya "pembiaran" seperti itu oleh Tuhan kepada makhlukNya.

Saya cuma pernah dengar 'Ud'uni astajib lakum' berdoalah maka pasti Aku akan merespon...
Jadi setelah kepintaran menyusun dan memanjatkan doa, maka kemampuan berikutnya yang musti dikembangkan adalah kemampuan mengetahui responNya terhadap setiap doa kita, dan menghargai respon itu dengan upaya terbaik yang kita bisa.

Kuwi lek jare ku lho...

Jumat, 18 Februari 2011

Obrolan tentang semacam Tyrex

Mas |

Ya |

Setuju sama Ahmadiyah ? |

Enggak |

Kenapa mas ? |

Lain dengan keyakinanku |

Sesat dong mas |

Iya dong menurutku |

dibubarin dong mas |

lho kenapa ? |

lho kan lain dg yang kita percayai |

bagaimana cara membubarkan keyakinan Bud.. urusan keyakinan urusan hidayah Tuhan.. |

kan sesat mas |

saya juga sesat menurut mereka. dan saya gak sudi disuruh bubar juga oleh mereka |

di suruh keluar kalo begitu dari islam |

jangan dong, dikit lagi kan islam kok malah disuruh keluar |

di suruh kembali ke islam kalo gitu mas |

nah sip, diajak mungkin bisa, kalo disuruh agak susah mungkin.. dengan baik2, bil hikmah, Insya Allah |

kalo tetep gak mau |

ya ajak terus sampe mau, ganti2 teknik, ganti2 posisi |

tetep gak mau mas, teman saya bilang sikat habis aja mas |

doain supaya dapat hidayah, dan rupanya teman kamu demennya main sikat-sikatan |

Rabu, 26 Januari 2011

Sesungguhnya tiap-tiap kamu adalah sales.....


Mengapa ?

#1. Karena semua orang dalam interaksinya dengan sekitar, pada hakekatnya adalah interaksi jual beli. Dari mulai mak byar anda bangun sampai mak pet anda tidur, sebenarnya adalah repetisi dan duplikasi dari serangkaian proses jual beli. Item nya bisa Pikiran, Cinta, Usaha, Pekerjaan, Ide, sampai urusan sandal jepit. Turn over nya bisa berupa uang, simpati, pahala, budi baik, kebahagiaan dan segala macem tergantung pilihan anda. Tapi semua itu adalah proses jual beli, memberi dan menerima. Nah, hari anda akan menjadi semakin mudah dan cerlang bila anda adalah seorang sales yang baik, yang menguasai teknik2 dasar penjualan mulai dari identifikasi, klasifikasi, kalkulasi, promosi, dan finalisasi.

Senin, 17 Januari 2011

kelak (2)


Kelak ketika waktu ku
Aku tak mau seorangpun kan merayu.... :) Charil Anwar itu sih...

Kelak ketika waktuku,
Aku tidak ingin merepotkan untuk terakhir kalinya. Mengganggu keluarga atau bahkan orang lain yang tak kukenal sama sekali, yang tiba2 akan merasa repot akan tibanya ajalku.

Maka kelak ketika waktuku,
Aku ingin tubuhku ada gunanya. Berdasarkan medical check up, seminggu yang lalu, semua organ ku berfungsi normal. Jadi silahkan donorkan semua organ tubuhku kepada siapa saja yang membutuhkan. Hati, jantung, limpa, paru, kornea, kelenjar getah bening, sumsum tulang belakang, pankreas, darah, semuanya gratis. Tak ku ijinkan ada yang mengambil sesenpun biaya daripadanya. Sisanya setelah tak ada lagi yang bisa digunakan, mungkin bisa untuk cadaver bagi para calon dokter di rumah sakit atau lab anatomi.
Cara penggunaan seperti ini semoga bisa menghindari kerepotan pengurusan jenazah, centang perenang pengurusan lahan kubur dan macet dan terganggunya pengguna jalan karena iring2an penguburanku. Aku sangat tidak menghormati mereka yang jadi koboi dadakan bermodal bendera kuning kecil itu. Aku tak mau ada arak2an anarkis seperti itu yang akan menjadi kesedihan terakhirku di hari itu kelak.

Jangan khawatir mengenai kenangan. Anak istriku pasti akan sangat menikmati kunjungan mereka kepadaku lewat facebook, twitter, foursquare, blog dan di coretan2 pada buku2 yang pernah ku baca. Kunjungan ini tentu akan lebih personal, sesuai waktu dan tanpa kerepotan2 yang jamak terjadi seperti macet di jalan, becek di kuburan, berantem dengan tukang bersih2 rumput kuburan, dan yang pasti tidak akan repot dengan penggusuran dan pemindahan lahan kuburan. Tentu saja teman dan handai tolan bisa mengunjungi ku juga di laman2 tersebut diatas. Bahkan keuntungannya, reminder dari ulang tahun kelahiran, pernikahan dan semua event kalender yang sudah aku setting, akan tetap setia hadir, bahkan setelah lewat waktuku itu.
Tapi sebenarnya, lebih dari media tersebut diatas, bukankah kenangan terbaik adanya di benak dan hati ? di rindu dan hormat yang terasa hangat di dada, mencerahkan di kepala?

Rabu, 08 Desember 2010

Pak Wito

Pak Wito meninggal pas di tahun baru hijriyah 1 Muharram 1432H | 7 Desember 2010.
Telah purna tugas bapak di dunia ini, telah tergenapi semuanya.
Dengan segala cerita suka duka sedih bahagia.
Semoga diampunkan dosanya, diterima kebaikannya, dipeluk di sisiNya.

Selamat jalan pak..
We'll see you there..

Senin, 06 Desember 2010

Kelak (1)

Tuhan, kelak bila Kau sudah tak terbendung rindu ingin berjumpa denganku. Silahkan Kau panggil saja aku, dan segera aku akan datang menghampiri, tanpa menunggu, tanpa nanti.
Panggillah aku dengan cepat, karena aku tahu rindunya diriMu kepadaku.
Amin.

Senin, 01 November 2010

Catatan tentang 'membagi madu'



Beberapa hari yang lalu, temanku secara bercanda -mungkin- menulis status "madu itu enak, manis dan bisa untuk ngobati penyakit... Tapi kenapa banyak wanita yang nggak mau di kasih madu...?"

Atas status tersebut ada komen yg menarik dari temannya teman ku sbb ;

"wanita sekarang sukanya kalo suaminya selingkuh dibanding di madu, padahal madu itu manis dan surga balasannya. Dibandingkan dengan selingkuh udah kotor, jorok dan neraka pula.... "

Komen lain masih dari orang yang sama ;

"adakah sahabat nabi yang tidak poligami?"

Menurut saya komen tersebut menarik karena beberapa hal ;

Hal #1. Kenapa poligami di perbandingkan dengan selingkuh, poligami diperbandingkan dg zina. Menurut ku itu perbandingan yg tdk setara..Nggak apple to apple, dondong to dondong dong....

Selayaknya Poligami diperbandingkan dengan Monogami, sedangkan Selingkuh diperbandingkan dengan bersetia. Sedangkan tentu saja zina ya diperbandingkan dengan tidak zina.

Jadi perbandingan yang benar -menurut ku- ; Bersetia lebih baik/buruk dari selingkuh, Zina lebih baik/buruk dr tidak zina, Poligami lebih baik/buruk dr monogami. Anda tinggal coret salah satu dari pilihan baik/buruk tersebut sesuai dengan preferensi anda saat ini.

Bila lalu perbandingan poligami lebih baik dari zina yang digunakan, maka logikanya menjadi ; kalau anda gagal dalam pengelolaan syahwat, lalu kemudian ingin berzina, lalu anda srat-sret berpoligami maka anda akan memperoleh pembenaran agama dan lalu dengannya anda merasa baik2 saja? betul..? dari pada zina kan? lalu di mana ketlingsutnya perasaan dan hak sang perempuan, sang istri untuk mendapatkan kebanggaan atas kesetiaan suaminya? bagaimana menjelaskan kepada anak si buah hati perihal pilihan sang ayah, pahlawan panutannya? lha kan sabab musabab awalnya sampean yang gak becus dalam management syahwat... itu aja napa yg diberesin, yang diterapi....

Jumat, 27 Agustus 2010

Menciptakan Islam bersatu


Temanku berkirim email ttg 'Indonesia kedepan'. "Hanya satu cara membangun Indonesia yaitu dengan menyatukan suara umat islam, menciptakan islam bersatu maka akan muncul sosok pemimpin2 yang amanah" begitu dia bilang..


Aku membatin ;
Bersatu dengan siapa?
Bagaimana?

Bisakah yg merasa haq disatukan dg yg dianggap bathil ? Sudikah yg merasa Shahih bersepakat dg yg dianggap dhaif? Mungkinkah yg merasa berjalan arah lurus ke surga bergandeng dg yg dianggap menuju kerak neraka?

Sedangkan masjid masih dibakar? Pikiran masih diadili, penafsiran dipersalahkan, dan takwa diperlombakan?

Sementara itu khatib taraweh dari malam ke malam masih saja rajin mendaftar 'fadhilah taraweh malam ke sekian'

Senin, 16 Agustus 2010

Ramalan ttg Rumi


Sekitar sebulan yang lalu -karena baru ganti BB dan belum sempet pindah2in file- istriku minta dikirimin foto Rumi yang ada di BB ku. Dan iseng, foto -spt foto diatas- di up load di FB. Ada beberapa komen dari teman2 mengenai foto tsb. Komen biasa dari teman2 yang memang telah mengenal kami, telah mengenal Rumi sebelumnya.
Tapi ada satu komen yang 'tidak biasa', dari teman istriku. Teman 'baru' yang sebelumnya belum kenal, belum pernah ketemu Rumi. Yang 'katanya' tiba2 saja menulis.. membiarkan tangannya bergerak2 sendiri di keyboard sambil matanya nanar memandang foto Rumi. Semacam keinginan tiba2 yang tak terbendung. Setelahnya baru dia meminta maaf bila apa yang tadi telah ditulisnya ada yang tdk berkenan.

Selengkapnya inilah komen tsb (asli tanpa edit)

"Skr sdh gede ya...anak yg riang, dr mata bathinku melihat anak ini adl anak yg cerdas dan sedikit jahil, bila menginginkan sesuatu dia akan brsh utk mencapainya, "people like" pencipta suasana, dan anehnya biar santai dan jahil dia biasanya ditunjuk sbg pemimpin. Dari bibirnya kelihatan apa yg mau dia mam biasanya tanpa sengaja akan tersedia,Bersyukurlah bu, anak ini akan menjadi "org besar" bila mencapai usia 40 thn hidupnya sdh sukses dan sangat sayang orang tua. Dmnpun dia berada selalu membawa suasana yg menyenangkan. Semoga dan amiiin...:)."