Tampilkan postingan dengan label poetry. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label poetry. Tampilkan semua postingan

Jumat, 09 September 2011

Begitu Engkau Bersujud

Oleh : Emha Ainun Najib

Begitu engkau bersujud,
terbangunlah ruang yang kau tempati itu menjadi sebuah masjid
Setiap kali engkau bersujud,
setiap kali pula telah engkau dirikan masjid
Wahai, betapa menakjubkan,
berapa ribu masjid telah kau bengun selama hidupmu?
Tak terbilang jumlahnya,
menara masjidmu meninggi, menembus langit,
memasuki alam makrifat

Setiap gedung, rumah, bilik atau tanah,
seketika bernama masjid,
begitu engkau tempati untuk bersujud
Setiap lembar rupiah yang kau sodorkan kepada ridha Tuhan,
menjelma jadi sajadah kemuliaan
Setiap butir beras yang kau tanak dan kau tuangkan ke piring ke-ilahi-an,
menjadi se-rakaat sembahyang
Dan setiap tetes air yang kau taburkan untuk cinta kasih ke-Tuhan-an,
lahir menjadi kumandang suara adzan


Kalau engkau bawa badanmu bersujud,
engkaulah masjid
Kalau engkau bawa matamu memandang yang dipandang Allah,
engkaulah kiblat
Kalau engkau pandang telingamu mendengar yang didengar Allah,
engkaulah tilawah suci
Dan kalau derakkan hatimu mencintai yang dicintai Allah,
engkaulah ayatullah


Ilmu pengetahuan bersujud,
pekerjaanmu bersujud,
karirmu bersujud,
rumah tanggamu bersujud,
sepi dan ramaimu bersujud,
duka deritamu bersujud
menjadilah engkau masjid


1987

Jumat, 19 Maret 2010

Pray for my son

Gen. Douglas MacArthur

Build me a son, O Lord, who will be strong enough to know when he is weak, and brave enough to face himself when he is afraid; one who will be proud and unbending in honest defeat, and humble and gentle in victory.



Build me a son whose wishes will not take the place of deeds; a son who will know Thee -- and that to know himself is the foundation stone of knowledge.



Lead him, I pray, not in the path of ease and comfort, but under the stress and spur of difficulties and challenge. Here let him learn to stand up in the storm; here let him learn compassion for those who fail.



Build me a son whose heart will be clear, whose goals will be high; a son who will master himself before he seeks to master other men; one who will reach into the future, yet never forget the past.



And after all these things are his, give him, I pray, enough of a sense of humor, so that he may always be serious, yet never take himself too seriously. Give him humility, so that he may always remember the simplicity of true greatness, the open mind of true wisdom, and the meekness of true strength.



Then I, his father, will dare to whisper, "I have not lived in vain

Selasa, 23 Februari 2010

Children



Kahlil Gibran

Your children are not your children
They are the sons and daughters of life's longing itself
They come through you but not from you
And though they are with you yet they belong not to you

You may give them your love but not your thoughts,
For they have their own thoughts.
You may house their bodies but not their soul,
For their souls dwell in the house fo tomorrow,
wich you cannot visit, even in your dream>
You may strive to be like them,
but seek not to make them like you>
For life goes not backward nor tarries with yesterday.

You are bows from which your children
as living arrows are sent forth.
Their archers sees the mark upon the path of the infinite,
and He bneds you with His might
that His arrows may go swift and far
Let your bneding in the archer's hand be for gladness:
For even as He loves the arrow that flies,
so He also the bow that is stable

Senin, 07 September 2009

Masih dari Rendra...


Seringkali aku berkata,
Ketika semua orang memuji milikku
Bahwa sesungguhnya ini
hanyalah titipan
Bahwa mobilku hanyalah titipan-Nya
Bahwa rumahku hanyalah titipan-Nya
Bahwa hartaku hanyalah titipan-Nya
Bahwa putraku hanyalah titipan-Nya
Tetapi, mengapa aku tak pernah bertanya : mengapa Dia menitipkan padaku ???
Untuk apa Dia menitipkan ini padaku ???
Dan kalau bukan milikku, apa yang harus kulakukan untuk milik-Nya itu ???
Adakah aku memiliki hak atas sesuatu yang bukan milikku ?
Mengapa hatiku justru terasa berat, ketika titipan itu diminta kembali oleh-Nya ?
Ketika diminta kembali, kusebut itu sebagai musibah
Kusebut itu sebagai ujian, kusebut itu sebagai petaka
Kusebut itu sebagai panggilan apa saja untuk melukiskan kalau itu adalah derita
Ketika aku berdoa, kuminta titipan yang cocok dengan hawa nafsuku
Aku ingin lebih banyak harta, ingin lebih banyak mobil,
lebih banyak popularitas, dan
kutolak sakit, kutolak kemiskinan, seolah semua
“derita” adalah hukum bagiku
Seolah keadilan dan kasih-Nya harus berjalan seperti matematika :
aku rajin beribadah, maka selayaknyalah derita menjauh
dariku, dan nikmat dunia kerap menghampiriku.
Kuperlakukan Dia seolah mitra dagang, dan bukan kekasih
Kuminta Dia membalas “perlakuan baikku”, dan menolak keputusan-Nya yang tak sesuai keinginanku
Gusti, padahal tiap hari kuucapkan, hidup dan matiku hanya untuk beribadah.
Ketika langit dan bumi bersatu, bencana dan keberuntungan sama saja

Rendra..

Rabu, 02 September 2009

in memoriam WS Rendra



Hidup tidaklah untuk mengeluh dan mengaduh
Hidup adalah untuk mengolah hidup
Bekerja membalik tanah
Memasuki rahasia langit dan samodra
Serta menciptakan dan mengukir dunia

Kita menyandang tugas
kerna tugas adalah tugas
Bukannya demi sorga atau neraka
tetapi demi kehormatan seorang manusia

Kerna sesungguhnyalah kita bukan debu
Meski kita telah reyot, tua renta dan kelabu
Kita adalah kepribadian dan harga kita adalah kehormatan kita

Tolehlah lagi ke belakang
ke masa silam yang tak seorangpun kuasa menghapusnya..

WS Rendra
7/11/1935 - 6/8/2009
"selamat jalan Rendra.."

Selasa, 07 Juli 2009

Hujan bulan Juni











tak ada yang lebih tabah
dari hujan bulan juni
dirahasiakannya rintik rindunya
kepada pohon berbunga itu

tak ada yang lebih bijak
dari hujan bulan juni
dihapusnya jejak-jejak kakinya
yang ragu-ragu di jalan itu

tak ada yang lebih arif
dari hujan bulan juni
dibiarkannya yang tak terucap
diserap akar pohon bunga itu

[Sapardi Djoko Damono / 1989]


Kamis, 19 Februari 2009

aku ingin



aku ingin mencintaimu dengan sederhana
dengan katayang tak sempat disampaikan kayu kepada api
yang menjadikannya abu

aku ingin mencintaimu dengan sederhana
dengan isyarat yang tak sempat disampaikan awan kepada hujan
yang menjadikannya tiada

[sapardi djoko darmono]